Iblis Minta Pensiun

Saya menerima SMS dari seorang pengamat sosial politik yang
juga pengusaha sukses yang bunyinya sebagai berikut
(bahasa sedikit saya ubah): ”Iblis minta pensiun
muda. Allah bertanya: ‘Wahai Iblis, kenapa kau kembali
kepada-Ku, padahal engkau sendiri yang minta untuk
menggoda manusia?’ Iblis menjawab: ‘Hamba yang ahli
fikih mencuri dana umat, Mahkamah Agung yang
seharusnya adil dan bijak malah memeras, terima sogok.
Hamba khawatir justru kami yang tergoda oleh manusia.
Maka kami minta pensiun dini saja’.” Astaghfirullah
al-’adzim.

Terus terang saja, saya geli tetapi terkagum-kagum
membaca SMS yang cukup sinis dan tajam dalam
menggambarkan kondisi masyarakat kita sekarang ini.
Luar biasa hebat penciptanya. Sebenarnya, sebagaimana
pernah saya katakan, kita hampir kehilangan kosa kata
untuk melukiskan moral bangsa yang semakin memburuk
dari hari ke hari. Apalagi aparat penegak hukum telah
turut berperan untuk menjadikan keadaan semakin
runyam, sekalipun kita belum tahu pasti apakah benar
”orang-orang terhormat” itu telah menyalahgunakan
posisinya untuk meraup benda haram.

Kutipan di atas adalah di antara cara kreatif
bagaimana rakyat kita yang punya kepekaan batin
menciptakan ungkapan-ungkapan sarkastik karena sudah
tidak tahan menonton kondisi bangsa ini yang dirusak
terus-menerus tanpa rasa dosa dan malu, sampai-sampai
Iblis pun putus asa melihat kelakuan manusia karena
telah mengalahkannya dalam perlombaan berbuat jahat,
sehingga mohon pensiun muda.

Sarkasme semacam ini akan terus bermunculan setiap
saat bilamana belum juga terbayang tanda-tanda positif
dari pemerintah dan kita semua yang masih siuman untuk
benar-benar berjibaku memperbaiki keadaan yang telah
bobrok ini. Saya tidak tahu lagi apa sebenarnya yang
dicari oleh kaum elite ini. Ada percaloan untuk
mendapatkan dana untuk musibah, ada kerja berebut
proyek (jika perlu dengan ancaman) dari sejumlah
anggota DPR terhadap dirjen-dirjen basah agar diberi
jatah.

Beberapa dirjen menyampaikan kepada saya, kelakuan
mereka ini sama sekali tidak lagi menghiraukan sisi
profesionalisme dalam membuat usul minta proyek.
Itulah sebabnya saya pernah menulis, ”Dalam kelakuan,
tidak ada lagi bedanya mereka yang mengaku percaya
kepada wahyu dan mereka yang tidak hirau kepada
agama.” Semuanya disikat hahis, asal ada peluang
untuk itu.

Itu belum lagi kita berbicara tentang proses pembuatan
undang-undang, berapa upeti yang harus dikeluarkan
oleh seorang menteri agar anggota DPR yang terhormat
itu menjadi tenang dan enak tidur. Pokoknya minta
diberi jatah untuk dirinya dan untuk partai. Kita bisa
membayangkan betapa perihnya keadaan kita, dan jangan
menyesal nanti jika yang tersisa dari harta negeri ini
tinggal tulang belulang yang berserakan karena
dagingnya telah dilahap habis.

Alangkah buruk dan malang nasibmu wahai Indonesiaku.
Anak-anakmu sendiri semakin tidak tahu diri. Filosofi
mumpungisme telah menjadi agama mereka, sehingga Iblis
menjadi tidak tahan dan kemudian minta undur diri
karena sudah kalah bersaing dengan makhluk yang
bernama manusia!

-Ahmad Syafii Maarif-

Leave a Reply